Senin, 25 Oktober 2010

Simple Marmer Pound Cake

Menyebut Pound Cake, selalu teringat kue cake masa lalu buatan Mbah Uti. Padat, berisi, legit mengenyangkan.Suasananya tuh mesti  sore hari senja berwarna kuning, secangkir teh atau kopi panas, dan Pound Cake! Kayanya hidup tuh indaaaaah banget. Segala masalah, penat letih terbang melayang bersamaan ditelannya Pound Cake ke tenggorokan.. hihihiiii

Pound Cake diberi nama seperti itu, karena resep aslinya terdiri dari 1 pound terigu, 1 pound butter, 1 pound gula dan 1pound telur. 1 pound = 453.59237 gram. Hampir setengah kilo lah ya. Namun perkembangan jaman membuat Pound Cake ini banyak di modifikasi. Lain negara lain pula modifikasinya. Masing - masing punya ciri khas tersendiri.

 

Kebetulan karena ada yang order cake yang simple tapi berasa enak, aku buatin Marmer Pound Cake ini. Aku buat dari Resep Simpel Marmer Pound Cake NCC 


Simpel Marmer Pound Cake
:: Penulis : Fatmah Bahalwan
 

Bahan:
150 gr   mentega
100 gr   gula pasir
3 btr      telur utuh
1 btr      kuning telur
150 gr   tepung terigu
1 sdt     baking powder
1 sdt     coklat bubuk

Cara membuatnya:
  1. Campur tepung terigu dan baking powder, sisihkan.
  2. Kocok mentega hingga lembut, masukkan gula pasir perlahan sambil terus dikocok sampai mengembang pucat.
  3. Masukkan telur satu persatu, sambil tetap dikocok. Kecilkan kecepatan mikser, tuang terigu yang sudah dicampur dengan baking powder, aduk rata.
  4. Sisihkan 2 sdm adonan, beri coklat bubuk, aduk rata. Tuang sisa adonan putih kedalam
  5. Loyang loaf 22x10cm, beri adonan coklat secara acak, kacau dengan sumpit hingga membentuk motif marmer.
  6. Panggang dalam oven dengan suhu 180’C, selama lk. 40 menit atau hingga matang.
Beneran lho, resep ini harus dicoba. rasanya beneran legit dan lembut. 
Jangan lupa teh panas dan senja hari ya... pasti hidup tambah damai deeh...

Jumat, 22 Oktober 2010

Just Another Story about Opera

Siapa yang bisa menyangkal keanggunan rasa dari Opera Cake? Rasa mewah selalu ada di tiap gigitannya. Tiap layernya dipenuhi legit almond, aroma kopi dan kelezatan ganache coklat yang menggoda.Maka tidak heran, berulang kali orang memesan Opera Cake ini.



Opera Cake yang biasa saya buat adalah Opera Cake resep NCC. Dimana di setiap layer jacondenya full terasa bubuk Almondnya. Tiap lapisnya disiram ganache coklat dengan perbandingan 2:1 untuk cokelat dan Whipcream.

Selain Opera cake NCC ini, kadang - kadang juga ingin membuat variasi rasa Opera cake versi lain. Biasanya yang dipakai adalah Opera Cake Elmer. Resep ini saya dapatkan ketika mengikuti demo produk Elmer di markas NCC. Berikut ini adalah resep Opera Cake Elmer.

Opera Cake
by Elmer Team

Komposisi:
A. Jaconde Sponge
B. Coffee Syrup
C. Chocolate Ganache Filling
D. Coffee Mouse
E. Chocolate Coating

Jaconde Sponge:
Bahan A 135 gr kuning telur
              100 gr gula halus

Bahan B  112 gr tepung terigu protein sedang
               81 gr almond bubuk

Bahan  C 36 gr butter cair

Bahan D  198 gr putih telur
                61 gr gula

Cara membuat:
1. Cairkan bahan C, diamkan hingga dingin
2. Kocok bahan A hingga tercampur rata, lalu masukkan bahan B, aduk hinga rata
3. Kocok bahan D hingga mengembang, lalu masukkan ke dalam campuran bahan A dan B secara bertahap bergantian dengan bahan C, aduk hingga rata
4. Tuangkan ke dalam 4 loyang kotak ukuran 20x20x3 cm yang sudah dipoles minyak dan dialasi kertas minyak
5. Panggang dalam oven dengan suhu 180-200'C selama 10-15 menit.

Coffe Syrup:
       150 gr Simple syrup
           5 gr coffe Instant

Cara Membuat: Campurkan Symple syrup dengan coffee instant, aduk hingga rata

Chocolate Ganache Filling
       500 gr Dark Cooking Chocolate
       250 gr susu cair

Cara membuat
1. Steam DCC hingga cair
2. Panaskan susu cair (hangat - hangat kuku) lalu campur ke dalam DCC, aduk ingga rata.

Coffee Mouse
      250 gr Chocolate Cappucino
      150 gram susu cair
      250 gr Whipping cream

Cara membuat:
1. Steam Chocolate Cappucino hingga cair
2. Panaskan susu cair, tuang ke dalam cocolate cappucino yang telah cair, aduk hingga rata
3. Kocok Whipping cream hingga kaku, tuang ke dalam campuran coklat, aduk hingga rata.

Chocolate Coating
       250 gr Dark Cooking Coklat
       110 gr fresh milk
       40 gr simple syrup
       20 gr glukosa

Cara membuat:
1. Steam DCC hingga cair,
2. Panaskan susu cair, simple syrup dan glukosa dalam pan, tuang ke dalam DCC yang telah cair, aduk hingga rata.

Finishing:
1. Basahi lapisan pertama Jaconde Sponge dengan sirup kopi, lalu isi dengan Chocolate Ganache Filling hingga rata, lalu tutup dengan lapisan jaconde kedua, basahi dengan sirup kopi kembali.
2. Isi lapisan jaconde kedua dengan Coffee Mouse hingga rata, lalu tutup dengan lapisan ke tiga lalu basahi dengan sirup kopi.
3. Isi kembali dengan Chocolate Ganache Flling, tutup dengan lapisan ke empat , basahi kembali dengan sirup kopi.
4.Tutup lapisan paling atas dengan Chocolate Ganache Filling, ratakan.
5. Simpan hingga cukup dingin
6. Siram bagian atas cake dengan Chocolate Coating
7. Rapikan sisi - sisinya
8. Dekor dengan garnish coklat dan buah.




Jika dibandingkan dengan Opera Cake NCC, Jaconde Sponge pada Opera Elmer lebih terasa seperti cake biasa, kurang terasa remah bubuk Almondnya. Maklum saja, hanya 81 gram untuk 1 resep, artinya hanya 120 gram Almond bubuk jika dikonversikan ke loyang 20x30 yang dipakai di resep NCC. Sementara resep NCC menggunakan 250 gram Almond bubuk untuk 1 resep.

Yang saya suka dari Opera Elmer ini adalah penggunaan Coffe Mouse sebagai fillingnya. Mungkin karena saya penggemar kopi. Mousenya amat lembut dan Chocolate Cappucino produksi Elmer ini sangat pas berpadu dengan bahanl ain di Opera Cake. Menurut pengalaman, untuk resep Coffee Mouse yang dirilis oleh Elmer, biasanya masih tersisa kalau dipergunakan untuk satu cake Opera ini. Saran saya, yang mau mencoba Opera Cake Elmer ini, Coffee Mouse nya dibuat setengah resep saja.

Suatu kali, karena masih ada sisa Coffee Mouse dari orderan Opera Cake sebelumnya, saya mencoba menggabungkan resep NCC dengan Elmer ini. Tidak banyak modifikasi sebetunya. Hanya mengganti satu layer filling dengan Coffe Mouse ini. Saya, pembuatnya memang hanya mendapat pinggiran cake sisa - sisa usaha merapikan Opera ini. Namun walaupun makan pinggirannya saja..mmmm...luar biasa enaknya!
Bisa jadi varian baru jualan nih. Opera Cake NCC with Coffe Mouse Elmer. Nyam..nyam..nyamm..



Minggu, 17 Oktober 2010

Crocodile Bread: the symbol of loyalty

A few days ago, my teacher also my baking buddies, Riana Ambarsari shared via twitter about event blog international : World Bread Day

Olala, I just knew that October 16th is World Bread Day. At the last time by the end of deadline submissions about Bread, this is my entry for #World Bread Day. : Roti Buaya ( Crocodile Bread)



Why this Bread called Crocodile Bread? Because it's shape is truly like Crocodile. This Roti Buaya usually served at a Betawi’s traditional wedding ceremony.

Roti Buaya merupakan bagian dari budaya di Indonesia, khususnya pada masyarakat Betawi, penduduk asli kota Jakarta dahulu Batavia.

Bagi masyarakat Betawi, roti buaya merupakan simbol dari kesetiaan, maka dari itu di setiap acara pernikahan adat betawi, selalu menyertakan roti buaya sebagai seserahan di samping mas kawin/mahar, dan perlengkapan lain seperti baju, kain,perhiasan, serta beberapa peralatan rumah tangga.

Roti buaya menempati porsi yang penting di banding peralatan seserahan lainnya. karena roti ini mempunyai makna sebagai ungkapan kesetiaan bagi calon pengantin yang akan melaksanakan pernikahan. Hal ini terinspirasi dari kebiasaan buaya yang hanya kawin sekali seumur hidupnya. Sementara perwujudan roti, juga memiliki makna tersendiri. Roti bagi masyarakat Betawi merupakan simbol dari kemapanan secara ekonomi. jadi diharapkan pengantin selain bisa saling setia juga hidup dalam kondisi yang mapan dan berkecukupan.Dan mayarakat Betawi mempercayai hal ini turun temurun hingga saat ini. (sumber: http://rotibuaya.com/)





Bahan-bahan roti buaya ini, seperti roti manis pada umumnya. Namun untuk mendapatkan  bentuk menyerupai bentuk buaya perlu keterampilan sendiri.

ROTI BUAYA
dari :Sajian Bersama Bogasari

Bahan
* 1000 gr terigu Cakra Kembar/Kereta Kencana
* 250 gr gula pasir
* 100 gr margarine
* 15 gr garam
* 25 gr ragi
* 15 gr susu bubuk full cream
* 3 butir telur
* 70 cc air es
* Pewarna secukupnya

Cara Memasak :

* Bahan dimasukkan ke dalam mixer, aduk sampai kalis/halus.
* Timbang sesuai dengan ukuran roti buaya.
* Variasi roti disesuaikan dengan bentuk.
* Panggang adonan hingga matang.

T i p s :

* Gunakanlah tepung Cakra Kembar/Kereta Kencana untuk membuat Roti Buaya.
* Perbandingan kepala dengan badan serta ekor dalam membuat roti buaya adalah 1:3.
* Fermentasi akhir maksimal 30 menit agar bentuk buaya tidak berubah.



Being a symbol of loyalty, roti buaya becomes not only culinary treasure, but more of cultural heritage that needs to be maintained through generations.





 

Happy World Bread Day! 

Selasa, 05 Oktober 2010

Sawut untuk Presiden

Mumpung Tanah Air sedang heboh dengan berita Presiden SBY batal ke Belanda, sekalian deh cerita soal orderan 'istimewa' kali ini. Istimewa bukan karena jumlahnya yang aduhai, atau jenis pesanan yang bikin dahi mengernyit bingung memikirkan model dekorasi , cara membawa, cara mengemas  atau yang lainnya.Istimewa karena kali yang memesan adalah panitia Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober  untuk hidangan di ruang tunggu VVIP + VIP pada Upacara Hari Kesaktian Pancasila ini di Lubang Buaya.

Harusnya, sudah bisa lebih santai. Karena ini re-order. Tahun lalu, panitia yang sama juga memesan pada kami. Tapi dasar manusia, ya tetep aja deg- deg an..hihihii. Karena tidak sama dengan pesanan - pesanan lain, kali ini harus melewati pemeriksaan ketat Paspampres. Yang diperiksa tentu saja : apakah mengandung racun, mengandung MSG, mengandung pengawet, mengandung pewarna yg tidak aman, apakah sudah basi, dll. Padahal, kalau dipikir - pikir rombongan VVIP dan VIP ini hanya sebentar di ruang tunggu, transit sekejap 15 -30 menit , lalu kemudian upacara. Setelah Upacara langsung bergerak pulang. Hehehe, kadang sebagai orang awam memandang hal ini nggak sepadan ama rentetan protokolernya. Tapi toh bukan urusan kita juga ya kan, negara punya aturan baku tentang keamanan Presiden dan Wakil Presiden, kita ngikut aja.

Untuk pemilihan menu, Panitia menyerahkan sepenuhnya pada kami. 'Bisikan' dari panitia sejak tahun lalu, katanya kalau dihidangkan cake, bolu biasanya tidak pernah disentuh. Dan dapat titipan pesan, kalau Tahu Isi yang tahun lalu dihidangkan, diminta kembali. Yup akhirnya setelah diskusi, kami memutuskan membuat : Tahu Isi, Sosis Solo basah, Klappertaart dan Sawut.

Untuk Tahu Isi, tahu sengaja diimpor dari Bandung, kami pakai tahu Tauhid dan tahu Yunyi. Bukan apa - apa, pengamatan kami selama ini tahu dari Bandung ini lah yang paling memungkinkan tidak pakai pengawet sama sekali. Tahu - tahu di Jakarta, biasanya kami simpan 3- 4 hari di kulkas, masih bagus. Sementara tahu Tauhid dan tahu Yunyi 2 hari saja di chiller permukaannya mulai berlendir dan jika dimasak akan mudah hancur. Tahu Isi  kali ini diisi dengan daging giling dan parutan wortel, dikukus dahulu lalu digoreng dengan telur.

Sosis Solo diisi dengan ayam seperti isian lemper. Namun tidak digoreng lagi. karena tahunya sudah digoreng. Klappertaart menggunakan resep Klappertaart Wilton, dikemas dengan alumunium cup personal.

Berikutnya adalah Sawut.  Sawut ini sangat mudah membuatnya. Singkong di parut kasar. Dicampur irisan tipis gula merah, lalu dikukus. Dihidangkan dengan parutan kelapa yang dikukus terlebih dahulu. dikukus langsung diatas alumunium cup, yang sebelumnya dialas daun pisang.


Mengerjakan sejak 1 hari sebelumnya untuk membuat Klappertaart, lalu disimpan di chiller. Tahu Isi juga dibuat sorenya sampai tahap pengukusan, simpan di chiller. Bangun jam 2 pagi, untuk membuat Sosis Solo, Sawut dan menggoreng Tahu. Jam 05.00 snack - snack ini diberangkatkan, karena ditunggu jam 05.30 oleh Paspampres untuk pemeriksaan. 1 jam setelahnya dapat kabar kalau semua lolos pemeriksaan, Alhamdulillah.

Karena lolos pemerikasaan ini lah yang paling utama. Kalau sempat tak lolos, kredibilitas kita yang buruk, ya nggak? Sudah tidak saya pikirkan lagi, apakah Presiden, Wakil Presiden , Mentri-Mentri makan seberapa banyak hidangan dari kami. Suka atau tidak suka, entahlah. Yang pasti sampai sekarang, Panitia tidak ada keluhan dan malah berterimakasih. Kami sudah berbuat yang terbaik, sudah dibayar lunas, selanjutnya, Allah yang mengatur rejeki kita :). Dan yang paling penting dari semuanya adalah pengalaman berharga yang tidak semua orang bisa merasakannya, Alhamdulillah.

Catatan Mudik 2: Wisata Kuliner Rantau Prapat - Medan

Perjalanan mudik saya kali ini memang sengaja saya niatkan mencari makanan khas yang enak sepanjang perjalanan saya dari Medan ke Rantau Prapat.

Dari Jakarta ke Medan kami naik pesawat, lalu dilanjutkan dengan perjalanan naik Kereta Api menuju Rantau Prapat. Jarak Medan - Rantau Prapat kurang lebih 270km, ditempuh selama 6-7 jam perjalanan. Sepanjang jalan kami ditemani pemandangan perkebunan Sawit dan Karet.



Setelah berangkat dari stasiun Medan , lalu melewati stasiun Lubuk Pakam lalu lanjut lagi menuju stasiun Tebing Tinggi. Di sini , sengaja kami beli jajanan yang selalu ditawarkan pedagang asongan di stasiun yaitu Pocal.

Pocal itu ya Pecel di Jawa, sama saja. Kacang ditumbuk dengan bumbu  kencur dan gula merah serta cabe, lalu dicairkan. Tersaji dalam kemasan pincukan, dimakan dengan tambahan lauk Sate Kerang. Sebenarnya, rasanya biasa saja, hanya saja menikmati sepincuk pecal di perjalanan ini menjadi keistimewaan tersendiri, setidaknya bagi saya, hehheee.


Tiba di Rantau Prapat, saya khusus meminta tolong Mertua membuatkan Anyang Ayam. Anyang Ayam adalah makanan khas Mandailing. Bumbunya menggunakan kelapa sangrai yang ditumbuk ditambah bumbu-bumbu lainnya lalu disiram dengan santan matang. Sebelumnya ayam dibakar dahulu baru dipotong kecil-kecil.


Anyang Ayam kali ini disajikan bersama dengan Pakat. Pakat adalah batang Rotan muda. Sebelum dikupas dari kulit luarnya, Pakat dibakar terlebih dahulu. Pakat banyak ditemui terutama saat bulan Puasa. Dimakan dengan bumbu Anyang atau Urap. Rasanya pahit, tapi banyak orang menikmatinya.


Di Rumah Mertua, saya kebetulan ketemu kue kering jadul kegemaran saya: Kue Bangket. Haduuuh senangnya hati, karena di Jakarta saya belum menemukan Bangket yang rasanya seenak Bangket Kampung ini. Bertanya pada mertua, katanya rahasia keenakan Bangket ada pada saat adonan diuleni, menggunakan pati santan asli dan adonannya dibungkus daun keladi. Namun sayang Mertua tidak menjelaskan secara rinci apa fungsi daun keladi ini.Katanya sih biar enaaak, hehheee. Ya sudahlah, yang penting saya bisa krauk - krauk mengunyah Bangket ini dengan lahap. :P


Di suatu malam,  kami berjalan - jalan di pusat kota Rantau Prapat. Ada pusat jajanan malam di jalan Veteran. Rata - rata penjualnya dengan gerobak., berkumpul berjejer sepanjang jalan. Malam itu saya memilih Mie Rebus, Sate Kerang dan Kerang  Rebus.


Mie Rebus di sini tidak sama dengan Mie Rebus Jawa yang kuahnya hanya berbumbu bawang putih dan kemiri. Mie Rebus ini kuahnya kental, memang diberi tepung sagu sebagai pengental. Rasa kuah terasa penuh rempah. Selain mie basah, terdapat tahu, taoge, telur rebus dan udang kering sebagai pelengkap. Dilahap saat masih panas.. Duuh, sungguh nikmat. Nanti, saya akan cerita tentang Mie Rebus di tempat yang lain.





Di daerah Rantau Prapat ini, Sate Kerang disajikan dengan variasi bumbu. Bumbu dasarnya adalah bumbu rendang. Namun ada yang menyajikannya dengan masih basah, ada yang dengan bumbu kering dan dibalur kelapa yang sudah disangrai dan ditumbuk. Dan sate kerang dengan bumbu kering ini yang paling saya suka, :P

Setelah menghabiskan waktu beberapa hari di Rantau Prapat, kami kembali ke Medan menggunakan mobil. Kami sempat mampir di kota Kisaran, tadinya untuk makan siang. Tapi ternyata warung makan yang kami tuju tutup. Jadilah mertua saya mengajak kami menyantap Mie Rebus langganan beliau sejak dulu ketika tinggal di Kisaran. Mie Rebus kali ini jauh lebih terasa berbumbu dibanding yang saya santap malam hari di Veteran - Rantau Prapat. Kuah lebih coklat, jauh lebih nikmat.


Perjalanan kami lanjutkan lagi. Setelah melewati kecamatan Limapuluh, tepatnya di Kecamatan Indrapura kami berhenti untuk makan (lagi!!, hihihi). Kali ini kami makan di Rumah Makan 100, diberi nama demikian karena jarak Rumah Makan ini dari Medan adalah tepat 100 KM. terletak di pinggiran Sungai, RM 100 berkonsepkan makan di alam terbuka. Siang itu kami menyantap Anyang Pakis dan Tofu Taoco. Anyang Pakisnya dasyaaat, enak sekali!

Selanjutnya, di kota Tebing Tinggi kami singgah di pusat jajanan yang menjajakan Lemang. 

Lemang merupakan makanan dari beras ketan yang dimasak dalam seruas bambu, setelah sebelumnya digulung dengan selembar daun pisang. Gulungan daun bambu berisi tepung beras bercampur santan kelapa ini kemudian dimasukkan ke dalam seruas bambu lalu dibakar sampai matang di atas tungku panjang. Lemang lebih nikmat disantap hangat-hangat, dengan campuran selai bahkan durian.
Pusat penjualan lemang di Tebing Tinggi adalah di seruas jalan bernama Jl. KH Dahlan berseberangan dengan Masjid Raya Tebing Tinggi, masyarakat lebih mengenalnya sebagai Jalan Tjong Afie. Lemang yang paling terkenal adalah Lemang Batok.
Lemang produksi kota Tebing Tinggi sangat terkenal lezat dan lemak. Karena kelezatannya itulah kota Tebing Tinggi juga dijuluki sebagai Kota Lemang. (sumber: Wikipedia )





Lemang batok ini legit sekali. Nikmat dimakan selagi hangat, dengan cocolan selai Sarikaya, Tape Ketan atau Bumbu Rendang. Lupa mertua lah kalo lagi makan Lemang, hihihihihi...

Sesampainya di Medan kami beristirahat, dan esoknya melanjutkan lagi perjalanan ke Langkat dimana keluarga suami banyak tinggal. Seharian itu kami tidak berwisata kuliner khusus. Di Medan, kebetulan di rumah teman tempat kami menginap ada sajian Roti Jala dan Pulut Inti.

Pulut = Ketan. Kali ini , saya makan Pulut Inti. Pulut diberi pewarna kunyit. Intinya dengan gula merah, legit sekali. Roti jala adonannya mirip adonan untuk membuat kulit dadar. Hanya saat membuatnya ada cetakan khusus, seperti gayung yang diberi corong berlubang-lubang, sehingga saat membuatnya akan jadi seperti jalinan jala. dimakan dengan Kari kambing, atau Kari lainnya ditambah kondimen acar timun + nanas. Jangan tanya soal rasa, top markotop!

Lalu, esok paginya kami makan pagi di Soto Sinar Pagi, jalan Sei Deli - Medan. Soto ini sudah sangat terkenal. Belum ke Medan namanya kalau belum makan di warung ini. Kami datang pukul 09.00 wib, warung masih ramai pengunjung. Pelayan sigap melayani. Terdapat berbagai macam menu Soto dan Sop.



Soto yang dihidangkan , khas Soto Medan yakni bersantan dan kaya akan rempah. Enak, dimakan hangat bersama dengan nasi putih. Suasana warung yang selalu ramai menjadi penambah semarak suasana makan di warung ini.

Makan siang nya kami sengaja mencari yang istimewa. Menjadi tujuan utama kami berkunjung : Dim Sum Nelayan. Letaknya di dalam Sun Plaza, tepatnya di lantai III. Rasa dimsum disini begitu istimewa.Bahkan kami tidak memesan makanan utamanya, cukuplah dimsum saja ditambah dessertnya yang terkenal : Pancake Durian. Rasanya sudah sangat sempurna.


Waktu yang sempit tidak memungkinkan kami menjelajah lebih banyak ragam kuliner di Medan, tebing Tinggi, Kisaran dan Rantau Prapat. Semoga umur panjang, sehat badan dan ringan langkah, saya punya peluang untuk ber'jalan' lebih jauh lagi.


artikel ini juga bisa di baca di sini

Catatan Mudik 1: Sarapan di Kedai Kopi atau Kopitiam?

Saya bukan penggemar kopi, dulu.
Sesekali saja saya menikmati menyeruput kopi. Selebihnya, saya penggemar air putih :)

Namun berderaknya roda jaman ikut menyeret saya pada kenyataan, bahwa kopi adalah bagian dari perubahan. Sebentar - sebentar janjian di Cafe, lalu teman- teman meminum kopi dan ikutlah saya meminumnya. Kebiasaan orang duduk berlama - lama minum kopi, berbicang - bincang dari obrolan santai sampai urusan bisnis ini, ternyata merupakan adaptasi dari kebiasaan dari dulu. hanya saja diadaptasi oleh pelaku bisnis mengemasnya menjadi Cafe atau Warung Kopi keren seperti Starbucks dan Coffe Bean, dan yang belakangan ini menjamur : Kopitiam.

Awalnya saya kira bahwa Kopitiam adalah merk dagang. Saya pikir semua Kopitiam di seluruh negeri ini milik seorang saja, hehheee. Norak ya. Ternyata, Kopitiam itu istilah.

KOPITIAM atau kopi tiam adalah Kedai Kopi.
Istilah kopitiam berasal dari gabungan kata kopi (bahasa Melayu) dan kata tiam (εΊ—) yang berarti kedai dalam bahasa Hokkien. (sumber: Wikipedia-Kopitiam)

Adanya akulturasi budaya antara orang Tinghoa dan Melayu sepertinya yang melahirkan budaya Kopi-tiam ini. Di daerah Melayu, khususnya Sumatera Utara dan Aceh, budaya minum kopi sudah berlangsung sejak dulu. Orang - orang betah duduk berjam - jam, ngobrol ngalor ngidul sambil menyeruput kopi. Budaya ini juga populer di negeri jiran Malaysia dan Singapura. Tidak heran munculnya banyak nama Kopitiam berawal dari negeri jiran, setelah itu baru masuk ke Indonesia mengusung nama yang sama: Kopitiam.


Kebiasaan orang Melayu betah duduk berjam - jam di Kedai Kopi ini saya temui langsung di Kedai Kopi Akur -  Rantau Prapat Sumatera Utara, tanah kelahiran suami saya.Kedai Kopi init erletak di tengah kota, menyempil diantara maraknya ruko - ruko. Setiap pagi Kedai ini ramai dikunjungi kebanyakan bapak - bapak, sebelum mereka memulai aktivitasnya.




Tidak hanya yang ingin mengisi perut pagi hari, banyak juga orang sekedar duduk ngobrol dan minum kopi, atau sambil membaca koran, merokok, yah seperti itulah.

Untuk menu sarapan , Kedai Kopi Akur hanya punya 3 menu: Kopi , Roti Bakar Selai Sarikaya dan Telur Setengah Matang.



Kopi yang dihidangkan, jangan berharap ada tawaran: Latte atau espresso? Ketika anda datang dan pesan kopi, pertanyaannya : Pahit, Manis atau Kopi Susu? Pahit artinya tanpa gula, Manis pakai gula, Kopi susu = Kopi + Susu Kental Manis.




Yang saya paling suka adalah Roti Bakar Sarikaya nya. Rotinya yang masih roti jaman dulu: kasar, seret. dibakar langsung diatas bara = bukan sekedar di toast. Jadi masih terasa aroma bakarannya.



Dihidangkan beroleskan selai sarikaya yang legit manis bukan kepalang. Nikmeeeh sangaat.

Sepertinya saya tahu, kenapa Bapak - bapak itu betah duduk berjam - jam. :P













Kalau dibandingkan , sajian yang sama dengan Kiliney Kopitiam yang berasal dari Singapore, sebenarnya sama saja : Kopi + Roti bakar + Telur Setengah Matang.  Entah siapa mengadaptasi siapa. Kaya Toast (= Roti Bakar selai Sarikaya) di Killiney Kopitiam terhidang dengan tambahan butter. Ah, mungkin beberapa orang akan sangat menyukainya. Jauh dari rasa 'kampung'. Karena rasa Sarikaya nya juga kurang legit dan kopi susu yang terhidang tak terlalu manis, mungkin orang kota sudah banyak menghindari gula, hehheee.



































Saya tidak sedang membandingkan mana yang lebih enak atau lebih baik. Saya hanya melihat kesaman karakter antara dua tempat ini. Berasal dari budaya dan kebiasaan dan akar yang sama, Kedai Kopi Akur masih tegak berdiri mengusung kesederhanaannya. Roti tawar jadul yang dibakar diatas bara api, kopi hitam sederhana + susu kental manis. Kopitiam Kiliney misalnya, yang saya ambil sebagai perwakilan Kopitiam yang sudah merajalela, merambah masuk Mall dengan segala gemerlapnya, masih juga tidak bisa lepas dari suatu tradisi: Kopi + Roti Bakar + Telur Setengah Matang.

Tradisi telah diwariskan, hanya dengan kemasan yang berbeda.

artikel ini juga bisa dibaca di : sini

Jumat, 01 Oktober 2010

Lebaran dan Liburan

Mohon Maaf Lahir dan Batin, masih bulan Syawal kan ya.

Puasa dan lebaran sungguh merupakan waktu - waktu tersibuk buat bakul kue-kuliner, yah setidaknya buat saya. Orderan yang meningkat,  kejar -kejaran dengan deadline, tenaga kerja yang mulai mengajukan cuti lebih awal,Ndaru yang butuh perhatian, Subhanallah.. membuat saya luar biasa pontang panting, hingga kemudian berefek mengabaikan blog ini.

Saking pntang pantingnya, banyak sekali pekerjaan tidak terdokumentasikan. Sederhana saja, saya ingin semua cepat beres. Alhasil malah lupa motret, dasar.. Ini cuma sedikit pekerjaan yang masih sempat saya foto.





Lalu waktu saya juga tersita (maksudnya menyitakan diri dengan sukarela hhehhe) dengan acara Mudik ke kampung halaman Suami.  Jadi, lengkaplah sudah alasan saya untuk absen meninggalkan blog.

Kini, saatnya kembali bergiat - giat diri. tenaga sudah kembali seperti semula. Energi dan semangat menjalani hari bertambah berkali lipat. Ayo semangat.

Minal Aidzin Wal faidzin...
Related Posts with Thumbnails